TUBERKULOSIS pada anak tak bisa disamakan seperti yang dialami orang dewasa. Dari gejala sampai pengobatan, anak-anak memiliki caranya tersendiri.
Hal itu diutarakan Dr. M Arifin Nawas, Sp.P(K), MARS, Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Dia menjelaskan bahwa tuberkulosis pada anak tak sama dengan orang dewasa. Hal itu sudah terlihat dari pendiagnosisanya yang memiliki ada fasenya sendiri.
"Gejala TB (tuberkulosis) pada anak tidak sama, dari gejala awalnya saja kalau orang dewasa itu kan batuk lebih dari dua minggu, flu, demam, kurus, dan nggak nafsu makan. Kalau pada anak-anak, dokter memakai skoring untuk menetapkan apakah anak mengalami tuberkulosis, seperti apakah ada kontak dengan pasien TB. Kalau ada, satu skornya berarti. Kemudian di-mantuk test dan bagaimana hasil rontgennya. Kalau hitam semua rontgennya berarti bagus. Bila semua itu sudah dilakukan, barulah didiagnosis oleh dokter," katanya dalam acara bertema ?SOHO #BetterU: Hari Tuberkolosis Sedunia? di ruang Florence, Hotel Akmani, Jakarta, Rabu, 19 Maret 2014.
Sementara untuk pengobatan, kata dia, umumnya pengobatannya sama. Hanya saja pada anak tak senang dicampur saat meminumnya. Mereka lebih memilih obat yang sudah di campur.
"Orang dewasa yang menderita tuberkulosis itu kan minumnya dicampur, beberapa tablet dicampur untuk sekali minum. Kalau pada anak kecil, mereka tidak senang dicampur. Pun sekarang sudah obat campuran untuk anak, namanya 4-FDC," tutupnya.
(tty)
»






0 comments:
Post a Comment