ANAK epilepsi dapat mengalami problem penyerta atau komobiditas. Problem penyerta ini pun beragam, mulai dari lumpuh otak, retardasi mental, maupun masalah perilaku.
Komorbiditas dapat disebabkan oleh kerusakan jaringan otak yang menyebabkan epilepsi atau jenis epilepsi itu sendiri. Lantas, bagaimana prinsip terapi dalam pengobatan epilepsi pada anak?
Neurologi anak RSCM, Dr.dr.R.A Setyo Handryastuti, Sp.A (K) mengatakan bahwa prinsip terapi epilepsi adalah monoterapi. Artinya adalah satu macam obat anti-epilepsi (OAE) dengan dosis seminimal mungkin. Pertama, diberikan satu macam obat sesuai jenis dan tipe epilepsi dan kejang.
"Mulai dengan dosis paling kecil, kemudian kita evaluasi dalam satu sampai dua pekan. Jika sudah tidak terdapat kejang, OAE dapat dilanjutkan sampai dua tahun bebas serangan kejang," jelas Dr. Handry pada seminar media bertajuk "Pahami Penyakit Penyerta (Komorbiditas pada Epilepsi Anak!" di Century Park Hotel, Senayan, Jakarta, Rabu (19/3/2014).
Namun menurutnya, jika masih ada kejang, dosis OAE dapat dinaikkan secara bertahap sampai dosis maksimal dengan tujuan bebas serangan kejang selama dua tahun. Jika dengan satu macam obat kejang belum hilang dapat ditambahkan OAE kedua, namun jika dengan dua macam obat kejang sudah hilang, maka OAE pertama dihentikan perlahan-lahan.
"Tetapi jika dengan dua macam OAE kejang kembali muncul, maka kombinasi dua macam OAE tetap diberikan. Jikak dengan dua macam OAE kejang belum teratasi, dipertimbangkan tindakan bedah epilepsi atau penambahan OAE ke tiga," jelasnya.
Sementara, keteraturan obat juga sangat penting, jika obat harus diminum dua kali sehari berarti jarak minum obatnya adalah 12 jam. Demikian pula jika dosis obat tiga kali sehari, maka interval pemberian obat adalah delapan jam. Jika kita lupa memberi obat, maka berikan sesegera mungkin, jangan menunggu keesokan harinya.
(tty)
»






0 comments:
Post a Comment