GAGAL napas akut yang disebabkan kerusakan paru akut (acute lung injury/ALI) masih merupakan masalah serius dalam kegawatan pada anak. Angka kejadian ALI pada anak berkisar 2,2 sampai 12 per-100.000 anak per tahun dengan mortalitas 18 sampai 60 persen.
Untuk mengatasi kondisi itu, biasanya orangtua mengambil langkah terapi ventilasi. Terapi ventilasi mekanis sendiri memang satu-satunya tatalaksana yang sudah terbukti menurunkan mortalitas ALI.
Meski begitu, hasil penelitian terbaru mengungkapkan bahwa terapi ini memberi efek samping yang berbahaya secara klinis. Di mana pemberian oksigen dalam konsentrasi tinggi dan regangan alveoli akibat terapi ventilasi, secara langsung mengakibatkan kerusakan struktur jaringan paru, yang identik dengan ALI dan disebut ventilator-associated lung injury (VALI). Alhasil, bayi atau anak akan terganggu kesehatan secara keseluruhan.
"Pesan penelitian yang saya teliti menjelaskan bahwa jangan pernah memberikan terapi ventilasi kepada ànak pemberian oksigen dalam konsentrasi tinggi dan regangan alveoli. Hal itu karena fisiologi, anatomi, dan mekanika pernapasan pada anak masih dalam tahap perkembangan. Sehingga menyebabkan stres paru-paru pada anak atau kerusakan struktur jaringan paru, yang identik dengan ALI dan disebut ventilator-associated lung injury (VALI)," kata Dr.dr. Ririe Fachrina Malisie, Sp.A(K) peneliti penelitian kepada Okezone di Aula Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta, Selasa (8/4/2014)
Lebih dalam, Dr. Ririe menerangkan, stres paru-paru itu bisa terjadi karena alat ventilasi yang digunakan anak dalam keluhan kerusakan paru hanyalah penanganan adaptasi dari orang dewasa. Atau bisa dibilang untuk anak-anak dan bayi belum ada penanganannya. Kalau dipaksakan malah membuat anak ataupun bayi stres paru.
"Paru-paru anak itu kan saat infeksi, mengempes, dan itu adalah kondisi stres paru-paru pertama pada anak. Bila ditambah oksigen tekanan besar yang memaksa paru-paru merenggang itu membuat paru-paru mengalami stres kedua. Inilah yang berbahaya," terangnya.
Oleh karena itu, orangtua harus meminta dokter ataupun dokter mengontrol pemberian oksigen pada anak saat melakukan terapi ventilasi. Pasalnya, kesimpulan hasil penelitian ini menjelaskan bahwa tekanan pemberian oksigen merupakan indikator anak mengalami stres paru.
"Stres pada jaringan paru itu akibat tekanan dan regangan yang berlebihan. Sehingga diperlukan pemantauan tekanan yang sebenarnya di dalam paru selam terapi ventilasi, yaitu membuat pengukuran tekanan pemberian oksigen sebagai pemantau tekanan di dalam rongga dada pada bayi dan anak. Terapi ventilasi dengan teknik khusus dapat dijadikan panduan untuk mengatasi hipoksemia akibat ALI, yaitu dengan menambahkan kateter selang agar bisa masuk ke paru, kans selsama ini hanya masuk ke kerongkongan atau non-ivansif, artinya tidak menyakiti fisik si anak," jelasnya.
Adapun untuk mendapat hasil penelitian itu, peneliti mengkaji melalui model hewan babi dengan memeriksa fisik diagnostik, mengecek darah rutin dan analisis gas darah, memeriksa radiologis dan ekokardiografi dan pemberian antiobiotik, serta obat cacing. Penelitian ini berlangsung selama rentang waktu dua tahun dari 16 November 2011 sampai 15 Februari 2013.
(tty)
»






0 comments:
Post a Comment