PERSENTASE perokok Indonesia di atas usia 15 tahun terus meningkat berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013. Padahal di berbagai negara, jumlah perokoknya semakin menurun tidak seperti yang terjadi di Indonesia.
Hal ini menempatkan Indonesia dalam keadaan gawat darurat dalam hal jumlah perokok. Oleh karena seperti yang kita ketahui merokok dapat menyebabkan serangan jantung, stroke, gangguan pernapasan hingga kanker.
Sehubungan dengan kondisi tersebut, menurut Dr.dr. Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH,MMB dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM Pemilu Legislatif (Pileg) 2014 merupakan momen untuk bisa menekan jumlah perokok. Dengan memilih calon legislatif (caleg) yang tidak merokok, menurut Dr. Ari Fahrial, artinya kita juga telah berupaya menekan jumlah perokok.
Namun sayangnya pada pemilu 2014 ini, menurut Dr. Ari Fahrial, tidak ada caleg yang menyinggung atau berusaha menyampaikan janji akan menekan jumlah perokok jika menang menjadi anggota legislatif. Padahal, Dr. Ari Fahrial yakin bahwa sebenarnya hati kecil perokok berusaha untuk tidak merokok. Tetapi, karena memang hidup dan kehidupan sudah dikuasai oleh rokok mereka susah melepaskan diri untuk tidak merokok.
?Karena itu rakyat harus bangkit untuk tidak memilih caleg yang merokok. Oleh karena itu, bukan hal yang berlebihan agar para pemilih mencantumkan kriteria ?tidak merokok? sebagai salah satu tambahan atas kriteria pilihan Calegnya,? tutur Dr. Ari Fahrial dalam rilis yang diterima redaksi Okezone, Selasa (8/4/2014).
Selain itu, Dr. Ari Fahrial mengatakan bahwa peraturan daerah (Perda) untuk mengendalikan jumlah perokok, dan pengawasan atas Perda tersebut tidak akan berjalan efektif jika lembaga legislatif diisi oleh orang-orang yang merokok. Bahkan, menurut Dr. Ari Fahrial, yang menyedihkan justru asap rokok mendominasi di sebagian ruang-ruang publik di lembaga legislatif tersebut.
?Pada akhirnya memang bagaimana kita dapat menekan jumlah perokok di Indonesia dengan menciptakan para wakil rakyat yang tidak merokok untuk Indonesia yang lebih baik dan sejahtera, karena ditangan mereka kebijaksanaan dan pengawasan pengendalian rokok dapat dilakukan,? tutupnya.
(tty)
»






0 comments:
Post a Comment