STAGNASI angka kelahiran total Total Fertility Rate (TFR) dan prevalesni pemakaian kontrasepsi atau disebut CPR menjadi suatu catatan penting bagi kinerja BKKBN. Pasalnya, hasil sementara Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 TFR yang yang ditargetkan sebesar 2,1 anak per wanita, namun baru tercapai 2,6.
Kondisi ini menunjukkan perlu adanya perubahan lingkungan strategis yang harus didukung dengan Peraturan Perundangan untuk menempatkan pembangunan KKB sebagai pembangunan prioritas nasional yang harus dijabarkan dengan sungguh-sungguh di lapangan.
Selain itu, perlu adanya sikronisasi program dan kegiatan antar Kementerian dan Lembaga baik di pusat-daerah, serta perlu difasilitasi dengan baik oleh semua lembaga pemerintahan terkait.
Kepala BKKBN yang baru saja dilantik, Prof. Dr. H. Fasli Jalal, Sp. GK, Ph.D mengatakan pihaknya siap membuka diri bekerja sama dengan pihak manapun dan siap menjadi seketariat dalam hal persoalan kependudukan.
?Jadi dengan sendirinya BKKBN harus siap membuka diri bekerja sama dengan pihak manapun. Siap menjadi seketariat yang tidak harus berada di depan tetapi juga dibelakang sehingga kependudukan sebagai tema besar melahirkan program keluarga sejahtera, karena didukung oleh beberapa pihak salah satunya adalah keluarga berencana,? ujar dr. Fasli Jalal di Auditorium Kantor BKKBN, Jakarta, Kamis 13 Juni 2013.
Selanjutnya ia mengatakan bahwa keluarga tua yang sejahtera dan pengelolan jumlah anak merupakan hal yang penting, karena itu program kesehatan gizi, program pendidikan, dan program pelayanan terhadap akses sosial di masyarakat menjadi sangat vital.
?Bagaimana kependudukan yang secara mikronya melahirkan keluarga tua yang sejahtera dan kemudian dibangun oleh pengelolan jumlah anak, dan anak itu yang penting berkualitas. Oleh karena itulah program kesehatan gizi, program-program pendidikan, dan program-program bagaimana pelayanan mereka terhadap akses sosial di masyarakat apalagi di pedesaan menjadi sangat vital,? tandasnya.
?Yang perlu kita fokuskan juga remaja dan keluarga-keluarga muda, untuk mereka ini pendekatan dengan bahasa mereka, karena itu kesehatan reproduktif dimulai di tingkat sekolah paling tidak menengah atas, kemudian di mahasiswa menjadi penting. Entri poin bagi keluarga-keluarga muda waktu dia menyiapkan perkawinan, waktu ritual-ritual perkawinan, pesan-pesan pada waktu KADI memberikan nasehat dan kemudian bagaimana mereka dimudahkan pada waktu mereka memilih kapan hamil, berapa jaraknya itu dimudahkan dengan pelayanan keluarga berencana, itu akan banyak membantu sehingga manfaatnya akan terasa langsung oleh mereka,? tambahnya.(ind) (tty)
»






0 comments:
Post a Comment