BENCANA merupakan peristiwa yang tidak dapat dihindari. Maka, butuh penanganan yang tepat, terutama dari segi kesehatan. Oleh karena itu, pembekalan penanganan bencana pun harus terus dilakukan sejak dini terhadap para calon dokter Indonesia.
"Negeri ini penuh bencana dan bencana ada dua, yaitu karena alam dan manusia. Bisa juga bencana alam karena manusia. Dari segi kesehatan wabah penyakiit juga bisa dikatakan sebagai bencana," kata Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla saat menjadi pembicara dalam Stadium Generale Pengelolaan Bencana di Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Indonesia (UI) Salemba, Jakarta Pusat, Jumat (14/6/2013).
JK menyebut, bencana alam yang paling berbahaya jika dilihat dari segi kesehatan adalah gempa bumi. Bahkan, dia menilai jika gempa bumi memiliki efek yang lebih berbahaya jika dibandingkan dengan tsunami.
"Kalau tsunami, masalah kesehatannya kecil karena korban tsunami langsung meninggal, tidak luka-luka. Tapi kalau gempa berbeda, banyak korban luka yang butuh pertolongan. Lokasi, waktu, dan ciri khas kejadian juga mempengaruhi tingkat bahaya bencana gempa bumi. Sehingga cara penanganannya pun berbeda," jelasnya.
Dia mencontohkan peristiwa gempa di Sumatera Barat dan Yogyakarta yang terjadi beberapa waktu lalu. JK menyatakan, gempa bumi di Sumatera Barat memiliki skala ritcher lebih tinggi dibandingkan Yogyakarta. Namun, gempa Yogyakarta menelan korban lebih banyak daripada di Sumatera Barat.
"Kenapa terjadi demikian? Jawa Tengah penduduknya lebih banyak dan rapat. Kedua, waktu kejadian gempa itu subuh. Ketiga, atap rumah yang menggunakan genteng sehingga akan sangat berbahaya ketika tertimpa. Sementara di Padang, terjadinya sore hari di mana orang masih banyak orang di jalan. Selain itu rumah di Padang, atapnya dari seng yang lebih ringan," kata mantan Wakil Presiden RI itu.
Untuk itu, tambahnya, dalam menangani sebuah bencana, perlu dikaji lebih dalam mengenai ciri-ciri dan kondisi daerah tersebut. Sehingga penanganan yang diberikan dapat sesuai dan tepat sasaran. Dia pun mencontohkan bencana gempa yang melanda Iran 10 tahun lalu.
"Pernah ada gempa di Iran pada 2003, waktu saya jadi Menkokesra. Kami kirimkan dokter dan perawat serta ahli patah tulang dari Cimande. Ternyata, para ahli patah tulang itu laris manis karena banyak dibutuhkan baik korban maupun untuk memijat dokter yang lelah sehabis praktek," urai JK disambut tawa para mahasiswa. (ind) (tty)
»






0 comments:
Post a Comment